top of page

Bukan Jakarta! Ternyata Ini Kota Terkotor di Indonesia dan Alasan di Baliknya!

  • Florence Febriani Susanto
  • 2 jam yang lalu
  • 4 menit membaca
Kota Terkotor di Indonesia
Sumber: Pexels

Kota terkotor di Indonesia bukan sekadar label yang muncul karena banyaknya sampah di jalan. Predikat tersebut pernah diberikan berdasarkan hasil penilaian program Adipura terhadap sejumlah daerah dengan nilai kebersihan rendah.


Menariknya, Jakarta bukan satu-satunya kota yang pernah menghadapi persoalan kebersihan. Ada beberapa kota lain yang juga mendapat sorotan karena pengelolaan sampah dan kondisi lingkungan yang belum optimal. Jadi, menurut Anda, kota mana saja yang pernah masuk daftar tersebut?


Daftar Kota Terkotor di Indonesia


Istilah kota terkotor di Indonesia merujuk pada hasil penilaian Adipura periode 2017–2018, jadi bukan berarti kondisi kota tersebut selamanya kotor.



Pada periode tersebut, KLHK menilai ratusan kabupaten dan kota berdasarkan berbagai aspek lingkungan. Beberapa daerah kemudian memperoleh nilai paling rendah sehingga masuk dalam daftar kota dengan tantangan kebersihan paling serius.


1. Medan, Sumatera Utara


Medan mendapat predikat dengan nilai terendah untuk kategori kota metropolitan dalam penilaian Adipura periode tersebut. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah pengelolaan sampah yang belum berjalan optimal.


Bahkan, sejumlah laporan pada periode tersebut mencatat produksi sampah Medan mencapai sekitar 2.000 ton setiap hari. Ketika volume sampah terus meningkat sementara pengelolaannya belum seimbang, persoalan seperti tumpukan sampah dan kebersihan lingkungan pun semakin sulit dikendalikan.


Karena itu, ketika membahas kota terkotor di Indonesia, nama Medan cukup sering muncul dalam pemberitaan. Namun, penting melihat predikat tersebut sebagai gambaran pada periode penilaian tertentu, bukan sebagai gambaran kondisi Medan sepanjang waktu.Ā 


2. Kupang, Nusa Tenggara Timur


Kupang termasuk kota sedang yang memperoleh nilai rendah dalam penilaian Adipura. Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika masyarakat masih menemukan sampah di berbagai ruang publik.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebersihan kota tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan. Pengelolaan sampah dari sumbernya, ketersediaan fasilitas, hingga kebiasaan masyarakat juga ikut menentukan kondisi lingkungan.



Dengan demikian, penyelesaian masalah membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah perlu memperkuat sistemnya, sementara masyarakat juga perlu mengubah kebiasaan membuang dan mengelola sampah.


3. Sorong, Papua Barat


Sorong juga masuk dalam daftar kota sedang dengan nilai rendah pada penilaian Adipura periode tersebut. Salah satu perhatian utama berkaitan dengan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA yang masih menghadapi berbagai persoalan.


Kota Terkotor di Indonesia
Sumber: Freepik

Pengelolaan TPA sangat penting karena sampah yang sudah dikumpulkan dari masyarakat tetap membutuhkan proses lanjutan. Jika pengelolaan akhir belum memadai, persoalan lingkungan justru dapat berpindah dari jalanan menuju area pembuangan.


Karena itu, membangun sistem persampahan yang baik tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah. Kota juga membutuhkan sistem pengangkutan, pemrosesan, serta pengelolaan akhir yang saling terhubung.


4. Manado, Sulawesi Utara


Manado termasuk kategori kota besar yang memperoleh nilai rendah dalam penilaian Adipura 2017–2018. Pengelolaan sampah dan persoalan limbah menjadi bagian dari tantangan lingkungan yang mendapat perhatian saat itu.



Namun, Anda juga perlu melihat informasi tersebut secara kontekstual karena predikat tersebut berasal dari periode penilaian tertentu. Bahkan, pemerintah daerah kemudian menyatakan bahwa kondisi kota telah mengalami berbagai perubahan dan upaya pembenahan.


5. Bandar Lampung, Lampung


Bandar Lampung juga masuk kategori kota besar dengan nilai rendah dalam penilaian Adipura periode 2017–2018. Persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian.


Volume sampah yang terus bertambah membuat pemerintah kota perlu memperkuat berbagai aspek pengelolaan lingkungan. Mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, hingga edukasi masyarakat, semuanya perlu berjalan secara berkelanjutan.


Refleksi dari Kota Terkotor di Indonesia


Melihat daftar tersebut, Anda mungkin langsung berpikir bahwa kebersihan merupakan tugas pemerintah. Padahal, persoalan lingkungan jauh lebih kompleks karena melibatkan masyarakat, pelaku usaha, pengelola fasilitas, hingga berbagai sektor lainnya.


Predikat kota terkotor di Indonesia seharusnya menjadi pengingat bahwa sistem kebersihan membutuhkan kolaborasi. Pemerintah perlu menyediakan infrastruktur yang memadai, sementara masyarakat dan pelaku usaha harus ikut menjaga lingkungan dari ruang terkecil.



Terlebih lagi, pemilik bisnis juga memiliki peran penting dalam menjaga sanitasi. Restoran, pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, dan fasilitas publik perlu menyediakan pengelolaan sampah serta sanitasi yang baik agar lingkungan tetap nyaman.


1. Peningkatan Infrastruktur Pengelolaan Sampah


Pemerintah perlu memperkuat fasilitas mulai dari tempat penampungan hingga pengangkutan dan pemrosesan akhir. Dengan sistem yang terintegrasi, sampah tidak hanya dipindahkan, tetapi benar-benar dikelola secara lebih bertanggung jawab.


2. Edukasi dan Kampanye Kesadaran Masyarakat


Fasilitas yang lengkap tetap tidak akan maksimal jika masyarakat masih membuang sampah sembarangan. Karena itu, edukasi perlu dilakukan secara konsisten melalui sekolah, lingkungan warga, ruang publik, maupun media digital.


Kota Terkotor di Indonesia
Sumber: Green Network Asia

3. Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat


Pelaku usaha dapat ikut berkontribusi melalui pengelolaan sampah dan sanitasi di area operasional mereka. Sementara itu, masyarakat dapat membantu dengan mengurangi sampah dan menjaga fasilitas umum yang sudah tersedia.


4. Penggunaan Teknologi dalam Pengelolaan Lingkungan


Teknologi juga dapat membantu kota memantau pengangkutan, mengoptimalkan pengelolaan sampah, hingga memantau kondisi lingkungan. Dengan data yang lebih baik, pemerintah dapat mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.



Pada akhirnya, kota terkotor di Indonesia bukanlah predikat yang seharusnya membuat sebuah daerah berhenti berbenah. Justru, data tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki.


Kebersihan kota pun tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Ketika pemerintah memperbaiki infrastruktur, bisnis menjaga sanitasi, dan masyarakat ikut bertanggung jawab, lingkungan akan jauh lebih mudah dijaga bersama.


Komentar


bottom of page