Jadi Negara Paling Bersih di Asia, Ini Aturan Kebersihan di Singapura!

Pernah merasa heran kenapa jalanan Singapura terlihat begitu bersih, bahkan ketika Anda melewati kawasan yang ramai? Bukan karena semua orang tiba-tiba punya kebiasaan super rapi, melainkan karena ada budaya kebersihan secara konsisten lewat berbagai aturan kebersihan di Singapura.
Singapura memang tidak mencapai kondisi tersebut dalam semalam. Pemerintah menjalankan edukasi, membangun infrastruktur, dan menerapkan aturan yang tegas, sehingga masyarakat terbiasa menjaga kebersihan ruang bersama. Upaya tersebut bahkan sudah berlangsung sejak Singapura masih menjadi negara yang relatif muda.
Aturan Kebersihan di Singapura
Kalau Anda berkunjung ke Singapura, sebaiknya jangan menganggap aturan kebersihan sebagai sekadar formalitas. Negara tersebut memang menerapkan berbagai ketentuan untuk menjaga ruang publik tetap bersih, sehingga kebiasaan sehari-hari masyarakat ikut membentuk lingkungan yang nyaman. Berikut beberapa aturan kebersihan paling terkenal di sana:
1. Jangan Membuang Sampah Sembarangan
Aturan kebersihan di Singapura sangat menekankan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Pemerintah bahkan menerapkan penegakan hukum terhadap orang yang membuang sampah sembarangan.
Menurut National Environment Agency (NEA), pelanggar dapat menerima composition amount sebesar S$300 untuk pelanggaran pertama. Jadi, meskipun sampah yang Anda buang terlihat kecil, konsekuensinya tetap bisa terasa besar.
Selain memberikan denda, pemerintah juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak selalu mengandalkan petugas kebersihan. Masyarakat justru harus menyimpan sampahnya sampai menemukan tempat sampah yang tersedia.
2. Jangan Sembarangan Membuang Sampah dari Gedung Tinggi
Singapura juga memberikan perhatian khusus terhadap kebiasaan membuang benda atau sampah dari apartemen dan bangunan bertingkat.
Sejak 2023, aturan mengenai high-rise littering semakin diperkuat. Jika sampah dari sebuah unit hunian jatuh ke area publik, pemilik atau penyewa tertentu dapat dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut.
Konsekuensinya pun tidak main-main. Pengadilan dapat memberikan denda hingga S$2.000 untuk pelanggaran pertama, S$4.000 untuk pelanggaran kedua, dan S$10.000 untuk pelanggaran berikutnya. Pelanggar juga dapat menerima Corrective Work Order hingga 12 jam.
3. Menjaga Kebersihan Toilet dan Area Bersama
Aturan kebersihan di Singapura tidak hanya berbicara tentang jalanan yang bebas sampah. Pemerintah juga mendorong masyarakat menjaga kebersihan berbagai fasilitas yang digunakan bersama.
Melalui gerakan SG Clean, masyarakat mendapat dorongan untuk menjaga toilet tetap bersih dan kering, mencuci tangan menggunakan sabun, serta membuang tisu dan sampah ke tempat yang sesuai.
Kebiasaan sederhana tersebut penting karena area dengan mobilitas tinggi bisa menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Karena itu, menjaga kebersihan fasilitas bersama membutuhkan kontribusi pengguna sekaligus pengelola.

4. Pembatasan Permen Karet
Salah satu aturan Singapura yang paling terkenal adalah pembatasan terhadap permen karet. Pemerintah menerapkan aturan ini untuk mencegah sampah permen karet menempel di trotoar, fasilitas umum, kursi, hingga area transportasi.
Namun, perlu diluruskan bahwa aturan tersebut bukan berarti mengunyah permen karet sepenuhnya dilarang. Singapura memberlakukan pembatasan ketat terhadap impor dan penjualan permen karet, sementara beberapa jenis permen karet untuk kebutuhan medis dan kesehatan gigi mendapatkan pengecualian dengan ketentuan tertentu.
5. Menjaga Area Publik Sebagai Tanggung Jawab Bersama
Menariknya, pemerintah Singapura tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan untuk menjaga lingkungan. Mereka juga membangun kesadaran bahwa ruang publik merupakan bagian dari lingkungan yang harus dijaga bersama.
Konsep tersebut sudah muncul sejak kampanye Keep Singapore Clean pada 1968. Kampanye tersebut mendorong masyarakat membuang sampah dengan benar dan memperlakukan ruang bersama seperti rumah sendiri.
Hingga sekarang, pendekatan kolaboratif tersebut masih berlanjut. Pemerintah, masyarakat, organisasi, hingga pelaku usaha ikut mengambil bagian dalam menjaga kebersihan lingkungan.
6. Pelaku Usaha Juga Punya Peran dalam Menjaga Kebersihan
Kebersihan di Singapura juga melibatkan sektor bisnis, terutama karena restoran, pusat perbelanjaan, transportasi, dan fasilitas umum memiliki tingkat kunjungan tinggi.
Melalui berbagai program kebersihan, pemerintah mendorong organisasi untuk mengikuti standar sanitasi dan kebersihan yang sesuai. Langkah tersebut membantu menciptakan lingkungan yang tidak hanya terlihat bersih, tetapi juga lebih higienis dan nyaman digunakan.
Jadi, aturan kebersihan di Singapura sebenarnya tidak hanya mengatur perilaku individu. Sistem tersebut juga mendorong pengelola fasilitas untuk ikut memastikan lingkungan tetap bersih bagi masyarakat.
Apa yang Bisa Kita Contoh?

Kalau Anda melihat kondisi Singapura sekarang, ada satu hal menarik yang bisa dipelajari. Kebersihan kota tidak hanya muncul karena masyarakat takut terkena denda, tetapi juga karena pemerintah membangun sistem yang membuat kebiasaan bersih lebih mudah dilakukan.
Pemerintah Singapura memperbaiki layanan kebersihan, membangun infrastruktur, menjalankan edukasi publik, serta menerapkan aturan secara konsisten. Mereka juga melibatkan masyarakat dan sektor swasta, sehingga tanggung jawab menjaga lingkungan tidak berhenti pada satu pihak saja.
Hal tersebut tentu bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia. Kita mungkin tidak perlu meniru seluruh aturan Singapura, tetapi kita bisa mengambil prinsip dasarnya, yaitu menjaga kebersihan melalui kombinasi edukasi, fasilitas yang memadai, kedisiplinan, dan kerja sama.




Komentar